Dzikir diantara rakaat tarawih

Pertanyaan (50718): Adakah dzikir khusus yang dibaca di antara setiap dua rakaat dalam shalat tarawih?

Jawab: Segala puji hanya milik Allah swt semata…

Dzikir termasuk ibadah. Dan ibadah itu pada dasarnya haram dikerjakan kecuali ada dalil yang mewajibkan atau menganjurkannya. Kita tidak boleh menciptakan dzikir bersamaan dengan ibadah. Baik setelah selesai ibadah maupun sebelumnya. Nabi saw telah mengerjakan qiyamullail bersama para sahabat dalam beberapa malam, para sahabat juga mengerjakan shalat tarawih secara berjamaah dan sendiri-sendiri, pada zaman Nabi saw, dan setelah beliau wafat. Tetapi tidak ada riwayat bahwa mereka melakukan dzikir tertentu setiap setelah satu kali salam atau setiap setelah dua kali salam.

Ketika para ulama’ tidak menukil (menyampaikan) adanya dzikir secara berjamaah di antara dua rakaat tarawih, baik dari sahabat maupun tabiin, maka ini dalil bahwa dzikir tersebut memang tidak ada. Karena para ulama’ menyampaikan kepada kita perkara-perkara yang lebih tersembunyi dari masalah tarawih yang jelas-jelas tidak tersembunyi.

Sebaik-baik petunjuk adalah mengikuti Nabi SAW dan mengikuti para sahabat dalam masalah-masalah ibadah, dengan mengerjakan apa yang mereka kerjakan dan meninggalkan apa yang mereka tinggalkan.

Tetapi orang yang sedang shalat tidak dilarang untuk berdoa kepada Allah SWT, membaca Al-Qur`an, atau mengingat Allah SWTtanpa mengkhususkan ayat tertentu, surat tertentu, atau dzikir tertentu di antara rakaat-rakaat tarawih. Juga tanpa disyaratkan hal itu harus dengan satu suara secara bersama-sama. Atau dengan dipimpin imam atau selain imam. Karena hal-hal seperti itu tidak ada riwayatnya dalam syariat Islam yang suci ini.

Pada dasarnya ibadah adalah tauqifi. Yakni berhenti pada dalil Al-Qur`an dan As-Sunnah. Jika tidak ada dalil maka ibadah haram dilakukan. Ke-tauqifi-an ibadah ini terjadi pada jumlah, tata cara, waktu, tempat, sebab, dan sifatnya.

(Misalnya kita diperintah untuk berdzikir sebanyak-banyaknya. Tetapi jika kita menentukan jumlah tertentu untuk dzikir tersebut, menentukan tata cara tersendiri, menetapkan waktu tersendiri, menetapkan penyebab kita mengerjakan dzikir itu, juga menetapkan sifatnya, padahal tidak ada dalil, maka dzikir itu berarti ciptaan kita dan termasuk bid’ah. Karena tidak ada dalil yang menjelaskan untuk itu.)

Syaikh Muhammad Al-Abdari yang lebih terkenal dengan Ibnul Haj berkata:

“Fasal: Tentang dzikir setelah dua kali salam dalam shalat tarawih: Menjadi kewajiban imam untuk menghindari perkara yang dibuat-buat manusia seperti dzikir setelah setiap dua kali salam pada shalat tarawih. Juga seperti mengeraskan suara untuk dzikir tersebut. Dan mengucapkannya dalam satu suara secara bersamaan. Sesungguhnya seluruh perkara ini termasuk bid’ah. Imam juga harus melarang muadzin mengucapkan ‘Ash-Shalaatu yarhamukumullah’ setelah berdzikir setelah dua kali salam itu. Karena perkara tersebut adalah muhdats (baru). Sementara perkara baru dalam agama adalah dilarang. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad SAW. Kemudian petunjuk para Khulafa’ Rasyidin. Kemudian petunjuk para sahabat. Sungguh tidak ada riwayat dari seorang salaf (sahabat dan tabiin) pun bahwa mereka melakukan dzikir-dzikir itu. Seharusnya yang cukup bagi mereka adalah cukup bagi kita. (Kita tidak perlu menambah-nambah).” (Al-Madkhal: 2/293-294)

Allahu a’lam.

Diterjemahkan oleh Wafi Marzuqi Ammar, M.A, dari Islamqa.com, pertanyaan nomor: 50718

Pos ini dipublikasikan di Islam dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s